Meganthropus Paleojavanicus : Pengertian, Kehidupan, Ciri

Ini Loh Sejarah, Ciri-ciri dan Jenis-jenis Meganthropus Paleojavanicus! Kini kita bertanya-tanya sebenarnya tentang kehidupan pra aksara pada zaman purbakala. Apakah pada zaman itu sudah ada manusia yang menghuni bumi? Atau hanya dinosaurus dan segala macam hewan buas saja.

Faktanya, ternyata sudah ditemukannya jenis manusia purba pada saat itu. di mana ini akan menjadi awal sebuah evolusi dalam kehidupan manusia sekarang. Tak dipungkiri bahwa setiap peristiwa yang terjadi pasti berkaitan dengan perubahan baik secara anatomi atau pun fisiologi keadaannya. Lalu, siapa sebenarnya manusia purba tertua di Indonesia?

meganthropus paleojavanicus

Meganthropus Palaeojavanicus merupakan jenis manusia purba di indonesia yang paling tua. Mungkin ada yang mendengarnya asing, karena sangat jarang diucapkan, atau tidak banyak kita temukan. Namun, manusia purba tertua ini adalah sebuah sejarah yang indah dan sangat banyak informasi yang menarik untuk kita pelajari. Lalu apa arti dari nama tersebut?

Mega artinya besar. Paleo berarti tertua dan Anthropus berarti manusia. Sedangkan Javanicus artinya jawa. Maka dapat disimpulkan bahwa Meganthropus adalah seorang manusia yang memiliki tubuh sangat besar dan merupakan tertua berasal dari pulau Jawa.

Sejarah Meganthropus Paleojavanicus

meganthropus paleojavanicus

Di dalam penelitian menunjukkan bahwa Meganthropus Palejavanicus hidup sekitar dua juta tahun yang lalu. Fosil pertama kali diterbitkan pada tahun 1936 oleh G.H.R. Koenigswald dan berakhir pada 1941 di situs Sangiran, rahang bawah dan atas di Solo.

Jenis Meganthropus ini merupakan manusia purba yang hidup di era Paleolitik atau Batu Hebat sekitar dua hingga satu juta tahun yang lalu dan berhasil menemukan fosil serupa pada tahun 1952 oleh Marks dalam bentuk rahang bawah.

Diperkirakan bahwa spesies Meganthropus Palejavanicus ini hidup 1 hingga 2 juta tahun yang lalu, selama era Palaeolitik atau Paleolitik. Kelebihan yang ada dalam jenis meganthropus ini, yang memiliki sebuah bentuk tubuh yang lebih besar dari orang tua lainnya.

Ciri-Ciri Meganthropus Paleojavanicus

Cirri-ciri dari manusia purba tertua di Indonesia ini meliputi tulang terhadap rahang begitu kuat. Tidak memiliki dagu. Mempunyai karakteristik manusia berupa rahang, tetapi lebih mirip seperti monyet.

  • Tubuhnya besar dan kekar. Tulang pipi telah mencolok dan tebal, dahi juga menonjol dan tebal, seperti bagian belakang kepala. Dalam otot-otot yang begitu sangat kuat termasuk ke dalam herbivora sebagai makanan pokok.
  • Memiliki volume otak lebih kecil dari pada manusia modern, sehingga dianggap sebagai manusia purba paling bodoh.
  • Tingginya sekitar 2,5 meter dengan cara berjalan seperti orangutan, sedikit ditekuk, tangan menopang tubuh dan panjang tangannya melebihi panjang kakinya.
  • Bila di spesifikan lagi postur dari Meganthropus Paleojavanicus yang menjadi ciri khasnya adalah bentuk dahi mendatar.
  • Bentuk pada bagian tulang kening sangat menonjol. Bagian mulut menjorok ke depan.
  • Memiliki tinggi badan berukuran 130 cm sampai 210, lalu bentuk kaki sangat panjang dan sangat dominan di gunakan untuk berjalan.
  • Bentuk tengkorak ada yang pendek dan panjang, di mana memiliki berat badan 88 kg sampai 150 kg dengan tulang pipi menonjol dan lebar serta memiliki bahasa komunikasi antar individu.
  • Pada bagian matanya berbentuk orbit, lalu memiliki bentuk geraham seperti manusia tetapi tidak berdagu seperti kera. Makanan pokoknnya adalah tumbuh-tumbuhan sehingga memiliki tulang pipi yang tebal. Hidup pada 2-1 juta tahun yang lalu.

Manusia purba seperti Meganthropus Paleojavanicus tidak mempunyai tempat tinggal tetap, mereka berpindah-pindah dan btidak kembali lagi ke tempat awal.

Semakin hari awalnya manusia purba sendiri-sendiri, tapi setelah itu mereka membentuk kelompok kecil dengan tempat tinggal paling aman dan nyaman adalah gua.

Pada masa perburuannya, mereka sudah sangat mengenal seni. Jadi untuk membudidayakan itu, manusia purba tertua itu menggambar di dalam gua milik mereka, lukisan hewan.

Untuk warna mereka biasanya menggunakan warna merah, hitam dan putih dan memakan berupa tumbuhan umbi-umbian.

Jenis Meganthropus Palaeojavanicus

Untuk jenis-jenis manusia purba seperti Meganthropus dapat di klasifikasikan sebagai berikut:

Progresif

Progresif merupakan sebuah jenis yang paling maju yang ditemukan terutama diendapan aluvial di Ngandong (Blora), Selopuro (Ngawi) dan endapan vulkanik di Tiger Connect.

Memiliki volume otak telah mencapai 1.100 cc, dengan tengkorak yang lebih tinggi dengan wajah pudarnya.

Arkaik

Ini merupakan Meganthropus Paleojavanicus dalam tipe homo yang ditemukan paling tua. Dia telah ditemukan pada lapisan tanah liat hitam dalam pembentukan grenzbank dan pucangan di Sangiran dan pasir vulkanik di utara Perning. Tipe ini dapat dikatakan jenis terbesar dan paling berotot dengan volume otak yakni sekitar 870 cc.

Tipik

Tipik adalah jenis yang paling maju dibandingkan dengan tipe arkaik atau tipe lainnya. Spesies ini merupakan bagian terbesar dari Homo Erectus di Indonesia.

Penemuan ini Kedung Brubus (Madiun), Patiayam (Kudus) dan sejak 2011 kembali ditemukan di Tegal.

Konstruksi tengkorak tersebut lebih ramping, meskipun dahi masih miring dan sedikit bengkok. Kapasitas otak sekitar 1.000 cc.

Pithecanthropus Soloensis

Pithecanthropus Soloensis adalah seorang pria monyet dari solo. Jenis fosil manusia purba seperti Meganthropus Paleojavanicus ini ditemukan sekitar tahun 1931 langsung oleh Openorth dan Von Koenigswald di pulau Jawa.

Hingga tahun 1933, manusia purba serupa lainnya ditemukan di Sangiran dekat sungai di Solo di mana bagian pertama yang ditemukan ialah sebuah tulang tibialis dan tengkorak.

Meganthopus 2

Meganthropus 2 adalah fragmen tengkorak yang pertama kali dijelaskan oleh Sartono pada tahun 1982. Analisis Tyler sampai pada kesimpulan bahwa itu merupakan kisaran normalnya H. Homo.

Tempurung kepala lebih dalam, lebih rendah berkubah, dan lebih luas daripada spesimen sebelumnya yang ditemukan. Ia memiliki sagittal crest yang sama atau punggung temporal ganda dengan kapasitas tengkoraknya sekitar 800-1000 cc.

Meganthopus 1

Spesimen Tyler ini telah digambarkan sebagai sebuah tengkorak yang hampir lengkap, tetapi dihancurkan dalam batas-batasnya tertentu.

Apa yang berbeda dari jenis Meganthropus Palaeojavanicus lainnya adalah bahwa spesimen ini tidak mempunyai sebuah ketinggian ganda yang memenuhi hampir di atas tengkorak dan bagian belakang lehernya sangat tebal.

Meganthropus A/Sangiran 6

Temuan ini pertama kali di temukan oleh Koenigswald pada tahun 1941 dan ia berhasil membawa temuannya itu dan mengirim cast rahang untuk di berikan dan di jelajahi sebagai penemuan.

Franz yang mendapat penemuan ini, akhirnya memaparkan penemuan luar biasa yang ia ingin jelaskan ini. Pada tahun 1945 ia memberi nama akan temuannya ini dengan nama hominid.

Kita bisa coba melihat ciri-ciri Homo Robustus yang membantu kita untuk membayangkan banyak hal tentang manusia purba jenis Meganthropus Paleojavanicus.

Penemuan ini yang terkenal karena memiliki rahang terbesar dan setelah di prediksi, ternyata rahangnya sama dengan tinggi dengan gorila, tapi memiliki bentuk yang berbeda.

Weidenreich menjelaskan serta memberi nama spesimen pada tahun 1945, dan terpana dengan ukurannya. Kemudian hominid ini merupakan hominid yang memiliki rahang terbesar yang dikenal.

Rahang itu kira-kira sama tingginya seperti gorila tetapi memiliki bentuk yang berbeda. Berbanding dengan anthropoid mempunyai rahang atau mandibula tertinggi dan terbesar di simfisis yaitu di mana dua rahang bawah bertemu.

Hal ini tidak pernah terjadi di sekitaran Sangiran-6, di mana ketinggian terbesar terlihat di sekitar posisi pertama molar (M1).

Weidenreich beramsumsi ini adalah gigantisme acromegalic, tetapi akhirnya tidak menggolongkannya karena tidak mempunyai fitur khas seperti dagu yang menonjol berlebihan dan giginya yang kecil dibandingkan dengan ukuran rahangnya itu sendiri.

Weidenreich tidak pernah membuat hipotesa akan ukuran langsung dari hominid ini berasal, tetapi mengungkapkan itu 2/3 ukuran Gigantopithecus yang dua kali lebih besar sebagai gorilla yang akan membuatnya setinggi sekitar 8 kaki (2,44 m).

Tulang rahangnya digunakan dalam bagian dari rekonstruksi tengkorak Grover Krantz sekitar setinggi 8,5 inci (21 cm). Sangat besar ya jenis Meganthropus Paleojavanicus ini!

Meganthropus B/Sangiran 33/BK 7905

Meganthropus B merupakan Fragmen mandinula yang di temukan sekitar tahun 1979 dan memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan mandibula sebelumnya. Hubungannya dengan Meganthropus menjadi paling lemah dari penemuan mandibula.

Homo Soloensis

Franz dan Koenigswald telah menemukan seorang manusia purba seperti Meganthropus Paleojavanicus ini pada kisaran 1931-1934. Karena volume otak, manusia purba ini tidak termasuk dalam kelas monyet-manusia.

Mereka juga dianggap lebih pintar dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Fosil pertama yang ditemukan ialah tulang tengkorak dan diperkirakan hidupnya terjadi antara 900.000 dan 300.000 tahun yang lalu.

Penemuan pertama yang tertua di pulau jawa adalah Homo Erectus Paleojavanicus atau manusia Jawa. Penemuan ini adalah penemuan pertama yang di temukan, akhirnya menjadi menarik pada awal penemuannya manusia jawa ini langsung di beri nama ilmiah.

Pemimpin tim yang menemukan fosil atau manusia purba jenis ini langsung berhasil menemukan tengkoraknya di Ngawi pada tahun 1891.

Baca selengkapnya : Homo Soloensis: Sejarah, Ciri-ciri, Pengertian (Lengkap)

Perlu diketahui arti dari nama manusia purba ini juga sangat unik untuk diketahui. Arti namanya sendiri diambil dari bahasa latin dan Yunani dengan arti manusia kera yang dapat berdiri.

Pithecanthropus Erectus

Arkeolog dari Pithecanthropus Erectus yaitu Eugene Dubois, awalnya tidak terlalu banyak mendapat temuannya. Namun, ia berhasil menemukan fosil yang lebih lengkap di desa Sangiran, Jawa tengah, yang berjarak sekitar 18 km ke Utara dari kota Solo.

Ada banyak penemuan fosil di Indonesia yang kini menjadi kian tersingkap keadaan serta keberadaannya.

Fosil yang akhirnya ditemukan berupa tengkorak tempurungnya di temukan oleh Gustav Heinrich Ralph Von Koenigswald pada tahun 1936. Ini masuk ke dalam jenis Meganthropus Paleojavanicus.

Banyak yang berfikir, bahwa ditemukannya manusia jawa ini mungkin merupakan mata rantai yang hilang antara manusia kera dengan manusia modern yang ada saat ini.

Namun pada akhirnya semua leluhur dan telah di sepakati juga bahwa manusia jawa adalah Homo Erectus yang memang benar-benar hidup di di pulau Jawa.

Sekarang sudah tahu bukan tentang sejarah, ciri-ciri bahkan sampai dengan jenis-jenis manusia purba tertua di Indonesia yaitu Meganthropus Paleojavanicus. Semoga dapat menambah pengetahuan tentang sejarah pra aksara dan manusia-manusia purba lainnya.

Karena seperti yang slogan fenomenal bahwa jangan sekali-sekali melupakan sejarah, termasuk sejarah evolusi manusia dari zaman purbakala sampai zaman sekarang di mana manusia sudah dengan porsi tubuh yang sempurna.